Halaman

    Social Items


Bahasa Suryani dan "Bekingan" di Balik Layar: Ada Apa dengan Mama Ghufron?




Wahyulaksono.com Dalam hati saya bergumam; entah sejak kapan kita mengambil pelawak —yang hanya bisa ndagel— menjadi seorang penceramah dan penceramah kita malah menjadi pelawak di panggung sandiwara di negara hahahihi ini, laa haula wa laa quwwata illa billah. Setiap kali saya scroll sosmed, selalu di timeline saya lewat potongan video Mama Ghufron. Jujur, awalnya saya cuma menganggap ini komedi receh di tengah stresnya kerjaan.

 Siapa sih yang nggak ketawa dengar klaim bisa video call sama malaikat atau dengerin "bahasa Suryani" yang kalau kita dengar pakai logika linguistik paling dasar pun, itu cuma bunyi-bunyi acak yang nggak jelas "maqoli, syududu" dan begitu seterusnya. 

Tapi makin ke sini, kok saya merasa ada yang janggal ya.
​Masalahnya bukan cuma soal dia ngawur. Masalahnya adalah: Kenapa dia seolah punya "kartu bebas" dari hukum?
​Biasanya, di negara kita ini, kalau ada orang yang bicara agama sedikit saja melenceng, gercep banget itu laporan penistaan agama masuk. MUI langsung keluar fatwa, polisi langsung panggil. Tapi dalam kasus Mama Ghufron yang jelas-jelas bikin hadis palsu pakai bahasa "planet" itu, kok pemerintah anteng-anteng saja? Malah yang bikin saya makin geleng-geleng kepala, kabarnya dia pernah dapat penghargaan dari pihak tertentu, bahkan sempat ada foto-foto bareng oknum aparat. Mengagetkan, bukan? 

Dari sini saya mulai menaruh curiga. Jangan-jangan, sosok seperti ini memang sengaja dipelihara? 

Saya memang sedang berspekulasi dan tidak ada bukti langsung bahwa negara “membacking” Mama Ghufron. Dalam artian, tidak ada bukti valid untuk menyimpulkan itu. Tetapi dalam ilmu politik dan media, ada konsep yang sangat relevan untuk membaca fenomena seperti ini. biarkan saya mencoba memahami ini dalam konteks yang relevan. 

Politik Distraksi: Ketika Kegaduhan Mengalihkan Fokus Publik

Dalam kajian komunikasi politik, ada istilah politics of distraction atau politik distraksi.
Konsep ini menjelaskan bagaimana perhatian publik sering dialihkan ke isu-isu sensasional, absurd, emosional, atau kontroversial agar energi masyarakat habis di sana, sementara isu yang lebih substansial tenggelam.

Fenomena ini dekat dengan konsep lama Romawi kuno: bread and circuses — rakyat diberi tontonan dan kegaduhan agar tidak terlalu fokus pada persoalan kekuasaan.
Dan jujur saja, pola seperti ini terasa sangat familiar di Indonesia.
Saat publik sedang ramai membahas:
ekonomi,
kebijakan pemerintah,
polemik MBG,
bansos,
utang,
korupsi,
atau isu elite politik,
tiba-tiba ruang media sosial dipenuhi potongan ceramah absurd: bahasa semut, bahasa jin, maqoli, Suryani, dan sebagainya.
Orang tertawa. Orang marah. Orang membuat meme. Orang berdebat.
Dan akhirnya perhatian publik habis di sana.

Bahkan kalau kita perhatikan lebih jeli, Mama Ghufron ini punya satu pola yang menarik: Dia nggak pernah sekalipun mengkritik pemerintah.

Selama saya menonton penggalan video ceramahnya yang memuakkan, saya tidak pernah sekalipun melihatnya mengkritik kebijakan pemerintah. Atau, sayanya aja yang gak menangkap momen itu? Tapi sepertinya memang demikian adanya. 

Meskipun ceramahnya ngawur, dia tetap berada di jalur yang "aman" secara politik. Dalam sosiologi, fenomena ini sering disebut sebagai bagian dari Manufactured Consent. Orang-orang eksentrik seperti ini dibiarkan (atau bahkan didukung secara halus) karena mereka tidak berbahaya bagi kekuasaan. Selama dia bicara bahasa semut dan bukan bicara soal korupsi atau ketidakadilan kebijakan, dia bakal tetap "nyaman" di singgasananya.

​Intiinya, tokoh nyentrik ini diarahkan untuk fokus ke hal-hal gaib, ritual aneh, atau urusan langit saja, supaya nggak usah ikut campur urusan bumi yang penuh dengan kebijakan pemerintah yang cacat.
​Jadi, buat saya, Mama Ghufron bukan sekadar fenomena "orang sesat" atau orang yang butuh perhatian. Dia adalah pengingat bahwa terkadang, komedi yang kita tertawakan di layar HP adalah layar asap yang sengaja ditiupkan supaya kita nggak lihat apa yang sebenarnya terjadi di belakang sana.

Politik Distraksi di Balik Fenomena Mama Ghufron






Wahyulaksono.com Diceritakan bahwa seorang diplomat atau jurnalis Barat bertanya kepada seorang tokoh (beberapa versi menyebut Raja Hasan II Maroko atau Syekh tertentu), 
"Mengapa dalam Islam, pria tidak diperbolehkan berjabat tangan dengan wanita?"

Tokoh tersebut kemudian balik bertanya, "Apakah Anda bisa berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth II?"
​Diplomat itu menjawab, "Tentu tidak, hanya orang-orang tertentu yang diizinkan oleh protokol kerajaan untuk menyentuhnya."
​Tokoh itu kemudian tersenyum dan menjawab:
​"Wanita-wanita kami (Muslimah) semuanya adalah Ratu. Dan para Ratu tidak berjabat tangan dengan pria asing (yang bukan mahramnya)."
Untuk sekedar melihat atau bertemu saja sulit apalagi bersalaman atau bersentuhan, bukan?

Mungkin orang akan berkata dengansinis, 
"Tapi kenapa aturannya harus seketat itu? Bukankah itu membatasi?"

​Mari kita jujur: Pernahkah kita protes saat masuk ke pameran barang mewah atau galeri seni kelas dunia yang menerapkan aturan super ketat? Dilarang memotret, dilarang menyentuh, bahkan ada jarak aman yang tidak boleh dilewati.
​Kita tidak menyebut aturan pameran itu sebagai "penindasan", melainkan "Standar Penjagaan". Kita maklum, karena kita tahu apa yang ada di dalamnya sangat bernilai.
Begitulah cara Islam memandang wanita. Aturan yang dianggap "ketat",mulai dari menjaga pandangan, kewajiban menutup aurat, hingga batasan interaksi fisik sebenarnya adalah Protokol Keamanan bagi sesuatu yang tak ternilai harganya. Islam tidak sedang membatasi gerak wanita, tapi sedang menaikkan standar penjagaannya.

Karena hanya barang murah yang bisa diakses dan disentuh oleh siapa saja tanpa aturan. Sedangkan wanita? Ia adalah perhiasan dunia yang aksesnya hanya diberikan kepada mereka yang memiliki "kunci" bernama tanggung jawab dan komitmen suci lewat pernikahan. Make sense, bukan?


Tapi, "Kenapa cuma wanita yang harus repot jaga diri dan ditutup-tutupi?"

​Padahal, kalau kita buka Surah An-Nur, Allah justru menunjukkan keadilan-Nya dengan sangat berimbang dan presisi. Allah tidak langsung menegur wanita. Perintah pertama justru dialamatkan kepada pria. 
Dalam surah An-Nur ayat 30 tugas pria adalah menjaga pandangan.
Sebelum wanita diminta menutup aurat, Allah lebih dulu memerintahkan pria untuk menundukkan pandangan mereka. Menurut Habib Umar bin Hafidz ada kecenderungan bagi seorang wanita untuk ingin "dilihat" Sedangkan pria ingin "melihat". Inilah kenapa dalam Islam diajarkan demikian.

Baru kemudian di ayat 31, Allah berpesan kepada wanita untuk menjaga kesantunan dan tidak menampakkan perhiasannya —diri/auratnya— demi menjaga dirinya dari kejahatan syahwat pria.
​Ini bukan penindasan, melainkan kemerdekaan. Wanita tidak perlu tunduk pada standar kecantikan publik yang melelahkan. Ia memiliki otoritas penuh atas siapa yang berhak melihat dan menyentuhnya.

Wallahu a'lam.

Memahami Bagaimana Cara Islam Memuliakan Wanita Dengan Perspektif Yang Seharusnya